Mei 2020

Photo Istimewa

MPA, PADANG - Selasa dini hari (26/5/2020), Wakil Wali Kota Padang Hendri Septa menyempatkan diri meninjau beberapa posko penanganan virus corona (Covid-19) yang ada di perbatasan Kota Padang. Mulai dari posko perbatasan di Sungai Pisang, Bungus Teluk Kabung (Bungtekab), dilanjutkan ke posko Lubuk Peraku dan sampai ke posko utama di Kantor BPBD Padang.

Seperti diketahui, hal ini intens dilakukan wawako sama halnya yang dilakukan Wali Kota Mahyeldi sejak Padang ditetapkan waspada dan tanggap corona.  Peninjauan ini lantara lain guna memastikan pemeriksaan yang sedang berlangsung oleh petugas terhadap setiap kendaraan yang masuk ke Kota Padang. Kemudian mencek petugas yang mengawas di posko perbatasan tersebut.

Setiba di lokasi, Wawako Hendri pun disambut para petugas posko serta beberapa kepala OPD yang bertugas saat itu.

Diantaranya terlihat Kadis Sosial Afriadi, Sekretaris Bapenda Syukral Syaukani, Kabid Penagihan dan Pemeriksaan Eka Putra serta lainnya.

"Peninjauan ini saya lakukan adalah guna memastikan penanganan semua orang atau kendaraan yang mau masuk ke Kota Padang. Karena memang kita harus terus memaksimalkan semua upaya demi menekan dan memutus mata rantai penularan pandemi covid-19 di Padang," ujar wawako di sela peninjauan yang dilakukannya sejak dini hari hingga pagi menjelang.

Hendri mengatakan, dalam peninjauan tersebut ia juga ingin mencek kondisi petugas yang berjaga di masing-masing posko. Berbagai arahan dan motivasi pun diberikannya untuk seluruh personil yang bertugas agar selalu bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.

"Untuk itu kita mengharapkan bagaimana seluruh petugas di posko agar bekerja dengan baik dan optimal sesuai SOP. Sebab, pemeriksaan yang kita lakukan adalah guna memastikan kondisi orang yang boleh masuk ke Kota Padang. Jika tidak sesuai aturan maka terpaksa harus kita suruh putar balik. Insya Allah dengan itu kita menjadi mudah memutus rantai penularan wabah corona ini, apalagi sekarang masih dalam tahap pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar," jelas wawako menekankan.(David)

Sumber : Humas Pemko Padang

Photo Istimewa

MPA, PADANG - Walikota Padang H.Mahyeldi memberikan apresiasi untuk jajaran Satpol PP dalam melaksanakan tugas cukup baik. Walaupun keterbatasan personil bertugas dilapangan tidak ada halangan. Dan tentu kita bersyukur sampai saat ini semua jajaran Pol PP sehat dan prima, apalagi disaat adanya wabah Covid-19.

Walaupun frekuensi tugas Satpol PP semenjak Covid-19 meningkat namun terlasana sangat baik. Setiap melaksanakan tugas dilapangan Satpol PP dibekali alat pelindung diri (APD) berupa masker, sehingga tugas dilapangan jadi maksimal.

Keseriusan dari jajaran Satpol PP penegak Perda ini dalam bertugas begitu sungguh-sungguh. Dengan kesungguhan itu semangkin cepat untuk memutus mata rantai Covid-19 di Kota Padang. sebut Mahyeldi usai melaksanakan apel di jajaran Satpol PP rabu (27/5/2020)

Walikota Padang menyebut, seluruh jajaran Satpol PP, baik dari pimpinan pasukan, tim yang diturunkan untuk melakukan penegakan peraturan Perda yang ada dikota Padang sudah terlaksana dengan baik sesuai dengan aturan. Apalagi dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di saat Covid-19, Pol PP  bekerja maksimalnya dan masif baik pada siang dan malam harinya.

Berjalannya pelaksanaan PSBB ini, maka frekuensi eskalasi kegiatan dari Satpol PP terjadi peningkatan. Atas dedikasi, kesungguhan serta keseriusan Satpol PP melaksanakan tugasnya,Mahyeldi berjanji akan memberikan Vitamin sehat bagi 492 personil Satpol PP. Pemerintah Kota Padang memgucapkan terimakasih kepada seluruh jajaran penegak Perda itu.

Selanjutnya Mahyeldi menambahkan, tugas Satpol PP selama pandemi Covid-19 setiap hari berinteraksi dengan orang yang fositif Covid. menyelamatkan, membantu serta melaksanakan sosialisasi dan melakukan pengamanan di empat titik posko pengamanan Covid-19. (Zal/Rengga/Prokopim)

Sumber : Humas Pemko Padang

Petarung MMA Mualaf Wilhelm Ott (kiri) bersama istrinya, Michele Birringer. (Foto-Foto: Instagram @willi.ott.148)

MPA, WINA – Michele Birringer, istri dari petarung MMA mualaf, Wilhelm Ott, baru dipecat dari pekerjaannya akibat memakai jilbab. Hebatnya, kondisi tersebut tak menggoyahkan iman mereka kepada Allah SWT.

Ott memeluk islam akhir April silam. Dia mendapat hidayah saat menjalani masa karantina pandemi virus corona. Keyakinannya kini juga diikuti sang istri. Tak tanggung-tanggung, Birringer langsung menjalankan kewajiban muslimah memakai jilbab.

Sayangnya keputusannya memakai pelindung kepala ditentang tempat kerjanya yakni sebuah kelab malam. Dia tak berkecil hati. Justru sebaliknya, hal itu membuat Birringer dan Ott makin istikamah.

“Asalamualaikum warahmatula wabarakatuh. Istri saya @bmischl diberhentikan dari tempat kerja hari ini karena jilbabnya. Dia manajer bar di pusat hiburan di St. Polten yang ditutup selama krisis corona. Selama krisis, hampir tidak mungkin mendapatkan pekerjaan baru,” kata Ott di Instagram Selasa (26/5/2020).

“Bosnya kemudian menelepon saya dan mengatakan dia bisa bekerja di sana sampai menemukan pekerjaan lain. Tapi saya katakan tidak, istri saya tidak akan bekerja di sana. Ini pertanda dari Allah kalau pekerjaan ini salah. Alhamdulilah. Dia mengatakan akan terus mengenakan jilbabnya dengan bangga,” ucapnya.

Petarung yang dijuluki The Amazing itu juga bercerita kalau banyak stigma radikal yang dilontarkan kepada dia dan istrinya setelah memeluk Islam. Tapi Ott tak khawatir lantaran masih memiliki Allah SWT.

“Setelah kami bertobat, orang-orang takut kami akan menjadi radikal. Tapi saya tidak khawatir. Anda akan menjadi radikal terhadap kami?! Allah SWT akan membantu kami. Dia tahu yang terbaik untuk kami.”

Sumber : inews.id

Photo Istimewa

PEKANBARU - Bayi berusia 32 hari yang diberinama Al Fatih An Nafii hanya bisa terbaring lemah di ruang inkubator, Rumah Sakit Sansani, Jalan Soekarno Hatta, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. 

Pihak RS Sansani merawat bayi laki-laki malang ini. Kondisinya memprihatinkan, bayi mungil itu harus mendapatkan perawatan intensif. 

Ini terlihat ketika Ketua Umum Pengurus Besar Gerakan Nahdlatul Ulama Peduli (PB-GNP) Covid 19, T Rusli Ahmad didampingi Bendahara Umum Alexander Pranoto, Rabu (27/5/2020) mengunjungi langsung bayi malang tersebut. 

Bayi yang dititipkan di Panti Asuhan Ali Hanafi ini saat kunjungan didampingi pengurus panti asuhan Ali Sosiyar sebagai Pembina, Ustadz Mauluddin, dan Fredi. 

Kedatangan T Rusli Ahmad ini untuk membantu biaya perawatan bayi selama di RS Sansani sampai sehat. 

"Saya merasa sedih melihat kondisinya bayi saat ini. Sang bayi masih dirawat menggunakan inkubator, alat bantu infus, alat pernafasan, anti biotik dan slang OGT, " ujar Rusli Ahmad kepada wartawan, disela-sela kunjungannya. 

Menurutnya, pihak RS Sansani bertanggungjawab penuh memberikan pelayanan terbaik bagi bayi hingga nantinya benar- benar sehat.

Rusli Ahmad mengatakan, dari informasi pengurus panti asuhan, bayi tersebut dibawa oleh seorang supir taksi yang menitipkan bungkusan kepada pengurus panti asuhan yang berlokasi di Jalan Sidodadi 1.

PB Gerakan NU Peduli Covid 19, ujar Rusli Ahmad,  akan membantu biaya perobatan bayi ini hingga sehat. 

"Saya juga sudah berpesan kepada tim perawat yang menangani agar memberikan perawatan yang terbaik. Kita doakan semoga anak ini bisa lekas sehat, " ungkapnya. 

Sementara Ustadz Mauluddin menyampaikan ucapan terimakasih kepada PB Gerakan NU Peduli Covid 19 atas kepedulian dan bantuan yang diberikan. 

"Saya ucapkan banyak terimakasih atas kepedulian pak Rusli Ahmad kepada anak asuh kami ini.Semoga lewat bantuan ini dapat cepat sehat dan berkumpul bersama kami," ujarnya

Disisi lain, Mauluddin menyebutkan, bahwa bayi malang ini saat dibawa ke Panti Asuhan dalam kondisi masih ada ari-arinya. 

"Kita juga tidak tau siapa orang yang membawa bayi ini. Karena saat dititipkan berupa bungkusan. 

Saat ingin ditanya supir taksinya langsung pergi, " ungkapnya.

Sementara itu salah seorang perawat yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, bahwa kondisi bayi masih tak sadarkan diri. 

"Kita rawat intensif bayi dengan baik, " ujar dia. ***

Oleh Pinto Janir

Baitu baru se lapeh dari bateh Kota Bukittinggi, tapeknyo di Simpang Jambu Aia, Rundi lansuang manakan nomor Yanti. Nyo pakai headphone sambia mambaok oto.  

Sakali manelpon, lamo ditunggu, urang nan ditelpon alun juo kunjuang manjawek. Telepon ko masuak, tapi manga kok indak maangkek. Nyo cubo dek Rundi sakali lai, indak juo manjawek doh. Rundi mulai cameh, adoh apo gerangan nan tajadi. Ba-a kok Yanti alun juo maangkek taleponnyo. Adoh apo? Lah berrkali-kali nyo cubo manelpon ulang baliak, namun nan Yanti alun juo maangkek lai doh ha. Bahkan, lah ka ampiang masuak lo ka kota Padangpanjang, nan Yanti ko antah dima jo antah ba-a kini ko. 

Agak khawatir pikiran Rundi dibueknyo. Apo Yanti mailak untuak batamu jo dirinyo? Baitu pikiran negatif nan tumbuah dalam pangana Rundi. Apo adoh sesuatu nan mambuek Yanti seperti manjarak? 

Tapi ba-a kok mendadak?

 Manga ka patang inyo bersedia untuak batamu jo Rundi di Padang. Raso-raso agak kanai harago diri Rundi di mato Yanti. Dulu dek mampartahankan harago diri ko  juo mangko Rundi maleh mahubungi Yanti katikok si Ral kawan sa SMP-nyo nan kuliah di ITB bacarito bahaso inyo pernah batamu jo Yanti di sebuah kafe di kawasan Dago Ateh Banduang. Wakatu itu Yanti sadang nongkrong jo kawan-kawan sasamo padusi. 

Katikok tu, si Ral mambari nomor Yanti ka Rundi. Sabananyo ha sabana gadang hati Rundi mandapek info tentang Yanti nan lah lamo nyo cari-cari. Tapi, di muko si Ral, inyo pura-pura cuek se kini. Pura-pura indak paralu deknyo mandanga ba-a kaba tentang Yanti. 

“Iko nomor Yanti, kawan. Kawan catatlah !” kato si Ral. Jo gaya mamaleh-malehan badan, Rundi mancatat nomor Yanti di ateh timah bungkuik rokok. Wakatu itu, si Rundi masih bujang. Baru ka mamulai usaho galeh kaki limo di Jam Gadang. 

“Cubo hubungi Yanti ko kini, kawan?” 

Bajujur-jujur se lah awak dih. Sabananyo, pado saat itu, ingin bana inyo mahubungi  si Yanti, tapi indak di muko si Ral ko doh. Inyo indak ingin, konconyo sampai tahu pulo bahaso sampai kini Rundi masih manyimpan rindu jo cinto ka si Yanti. Kalau tahu lo si Ral, kanai lah harago diri Rundi. 

Rundi iyo santiang manyimpan cinto ka Yanti. Sampai kini, indak satupun urang nan tahu bahaso cinto jo rindu Rundi hanyo untuak Yanti. Pernah sakali duo, Rundi maikuti acara reuni kawan SMP. Sakali-sakali kawan SMPnyo tantu manyabuik-nyabuik namo si Yanti, tapi tatap juo Rundi pura-pura indak tertarik membahas si Yanti. 

Antah ba-a ko lah…satiok urang membahas si Yanti, satiok itu pulo hati Rundi taibo-ibo surang. Mangkonyo inyo mahindarkan diri atau manjauhkan diri satiok manyabuik namo Yanti. Soalnyo, satiok kawan-kawan bacarito soal Yanti ka Yanti, satiok itu pulo Rundi tarumuak di kamarnyo surang. Sakironyo Rundi pandai mambuek puisi, mungkin lah baribu puisinyo nan tercipta mah!

“Ba-a kawan kok diam se  ha.Talepon lah lai….” Tibo-tibo si Ral mangajuik an lamunan Rundi. 

“Ah, ijan dipikiaan bana lu.Isuak-isuak lah ambo talepon dih !”

Katikok manyabuik kato-kato “isuak-isuak ambo talepon tu” sabananyo hati Rundi saraso disayik sambilu. Tabayang deknyo wajah urang nannyo sayang. Tapi, inyo bapantang pulo urang lain tahu kalau cintonyo pado Yanti sungguahlah sangaik gadang. Padohal, Rundi ingin berharap, si Ral ko lakehlah balalu. Tujuah langkah se si Ral kalua dari kadai kopi ko ha, Rundi lah baniat bana untuak lansuang manelpon si Yanti tu mah.

Tapi apo nan tajadi, katikok si Ral---nan pulang kampuang dek karano liburan semester---  lah kalua dari kadai kopi Utiah ko, tanyato  nan Rundi indak juo kunjuang manelpon si Yanti. Padohal inyo lah ka siap-siap manelpon Yanti, tibo-tibo muncul raso angkuah dalam dirinyo. Ah, ambo lo kamanelpon dulu bia lah indak. Awak laki-laki, kanai harago diri wak bekoh!

Yop, harago diri!

Manampek an “harago diri” nan indak pado tampeknyo ko lah nan acok mambuek cinto jadi kusuik masai.Jadi indak salasai. 

Cinto tu mangalah. Bukan harus maraso kalah. Kalau indak adoh nan namuah mangalah salah surang dari awak , alamaik cinto tu akan manjadi cinto nan kalah, ujuang-ujuangnyo bapisah!

Rundi jo Yanti, tu ha…lah sajak SMP bapisah. Alah sakian tahun bapisah, baru anam bulan nan lalu batamu. Tapi masihkah Rundi akan bertahan dengan apo nan inyo sabuik sebagai “Harga diri”?

Rundi sudah menempatkan raso harago diri yang salah untuak seseorang yang inyo cintoi. Seharusnyo inyo mangalah se lah. Mangalah bukan berarti takuik ka padusi.Bukan berarti takuik ka urang nan dicintoi.Kalau memang sayang ka urang tu, kalau memang cinto ka urang tu, perjuangkanlah cintamu sampai ka muaro…sampai ka pulau cito-cito. Kalau balayia, ijan tangguang-tangguang. Kalau layar lah dikambangkan, tujuan lah jaleh, sakareh apopun badai, harungi taruih. Sabab nan namonyo badai pasti berlalu nan alek pasti salasai. 

 Baitu adatnyo cinto sejati. Ijan sok-sok bicara harga diri. Jan sok-sok tahan santiang pulo. Kalau masih saliang manahan santiang, picayolah; pasti lapeh kijang tu ka rimbo. Masuak samak cinto tumah. 

Apo cinto ko kadibaok mati? 

Hiduik didunia, sakali luruihnyo. Mati bakapan cinto nan indak sampai  tu, kematian nan malang tumah. 

Babarapo hari setelah tu, Rundi tasadar. Rindunyo ka Yanti makin bangkak, labiah-labiah sajak batamu jo si Ral. Dek indak tahan lai, inyo baralah soal harago diri. Inyo ingin manelpon si Yanti. Nyo cari catatan nomor HP Yanti nannyo tulih di karateh timah rokok. Nyo cari sarawa jinnyo nannyo pakai kapatang. Sebab nomor tu nyo simpan di sawa jin belelnyo tu. 

Ondeh mak  oi. Ruponyo sawa ko alah kanai cuci pulo, sadang tajamua. Nyo usai saku-saku e. Batamu karate tu. Tapi lah karemok.Lah cayia. Tinta e alah luntur. Mancaliak karateh timah rokok nan lah karemok tu, Rundi tamanuang buruak. Rasailah.

Inyo manyasa, ba-a kok indak inyo simpan se nomor Yanti ko di hapenyo. 

Iko dek gara-gara  soal harago diri ko tadi juo mangko takah iko kini jadinyo. 

Kini, di ateh oto ko inyo bapikia surang. Dek si Yanti alun juo manjawek-jawek.Alun juo maangkek-angkek taleponnyo, untuak sebuah harago diri, ingin inyo puta baliak otonyo ko ka arah Bukiktinggi. Ancak inyo bamanjo-manjo jo bininyo lai.Ancak inyo mahuni toko e lai. Rundi emosi. Indak ka basobok gai tak anti! Baitu kareh hatinyo bapikia. 

Tapi baitu tabayang betapa ayu,sendu,manih,kamek,rancaknyo wajah pacar lamonyo ko, dan tabayang betapa hari-harinyo nan panjang selalu terkenang akan wajah Yanti, niatnyo untuak baliak ka Bukiktinggi nyo batalkan. Gas makinnyo takan kancang manuju Padang. Seolah-olah Padang lah ampiang di ruang mato. 

Untuk cinta, persetanlah soal harga diri. 

Wow. Nekat ko yo?

Samantaro, wakatu Rundi manelpon tadi, Yanti sadang di kamar mandi. Handphone-nyo pun dalam posisi silent. Sudah mandi, inyo lansuang masuak kamar, basegeh-segeh manyambuik Rundi. Nan HP alun juo inyo bukak. 

Katikok inyo mambukak HP, baru inyo takajuik. Tanyato di HPnyo adoh 25 kali panggilan tak tajawek dari Uda Rundi. 

Ha?Uda Rundi?Ba-a pulo caritonyo ko. 

Sewaktu Yanti dimiskol Rundi di Jam Gadang, inyo lansuang mancatat namo Rundi pakai kato Uda. Inyo pun indak tahu, ba-a kok harus pakai kato Uda lo. Urang ko se samo gadangnyo. Tanyato, Yanti ingin menghormati Rundi. Salamo ko inyo menghormati Rundi hanyo dalam hati. Kini, kato untuk menghormati itu ingin inyo tuliskan bana jo “Uda”. 

Bagageh, Yanti manelpon baliak ka nomor Rundi. 

Baitu hampiang masuak ka Sicincin handphone Rundi badariang. Sakali Yanti manelpon, nyo padiaan se dulu. Duo kali…inyo padiaan juo baru. Yanti mulai gelisah. Adoh apo jo Rundi? Baitu pikirannyo? Apo Rundi menghubunginyo untuak membatalkan pertemuan? Baitu pikiran Yanti.kalau iko tajadi, yanti iyo bana-bana kecewa. Bisuak inyo barangkek maninggakan Padang. Tak akan inyo kabar-kabari Rundi salamo-lamonyo. Baitu bana padiah jo sakik hati Yanti dek Rundi alun juo maangkek taleponnyo. Tapi untuang,  pas kali katigo, Rundi maangkek. 

“Uda…..!”

Ha, Uda? Kanai kato uda ko, Rundi binguang. Uda ma lo ko ha? Baitu pikirannyo. 

“ Iko Rundi, bukan uda !” jawek Rundi lambek. 

“ Yo Da….!”

“Rundi !”

“Uda!” jawek Yanti tatap jo sabutan Uda. 

Rundi tadiam. 

“Manga uda diam? Apo indak buliah Yanti mangganti panggilan Rundi jo Uda?”

Ops. Raso ba a lah dunia mandanga suaro Yanti nan manjo tu. 

“Buliah yanti maimbau jo sabutan Uda? Apo buliah Da?”

“Buliah. Bagi Rundi, asal Yanti sanang, uda sanang pulo….!”

“Tarimokasih Uda!”

Sudahtu Rundi mengabari bahaso inyo lah sampai di Sicincin. 

“Uda….Uda singgahi sajo Yanti di rumah yo”, kato Yanti.

“Kirim ka Uda alamaik nan tapek yo Nti”

Mandanga Rundi mampaudakan badannyo ka Yanti , betapa babungo-bungonyo hati Yanti dibueknyo. Saraso cintonyo nan hilang sekian tahun, kini raso batamu kembali.

“Iyo Uda. Yanti segera shareloc ka Wa uda!” 

Sabananyo Yanti ko ba-a duduak tagaknyo kini? 

Iko caritonyo ha. 

Yanti kuliah di Universitas Padjadjaran Bandung Fakultas Kedokteran. Tapi, indak tamat tasabab katikok Yanti lah ka memasuki program profesi atau istilahnyo manjadi koas, inyo baranti dek karano dijodohkan dek papanyo  dengan Ir. Satrio Pujakerto, lulusan ITB.Melanjutkan S2 dan hingga program Doktor di Harvard University melalui program beasisiwa.  

Sia pulo nan indak mengenal Universitas Harvard. Iko universitas paling bergengsi di dunia. Universitas iko talatak di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Harvard adolah universitas paliang tuo di Amerika Serikat.  Proses seleksi untuk bisa manjadi mahasiswa di Universitas Harvard sangat ketat bana. Dek hebatnyo, Satrio bisa jebol S2 jo S3-nyo di universitas ko. 

Itu tandonyo, Satrio ko hebat. Jarak umua Satrio jo Yanti berkisar agak-agak 20 tahun. Apak Satrio jo apak Yanti samo-samo pejabat. Samo berakhir pensiun di Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Samo-samo pejabat eselon satu. 

Satrio ko dek asik karajo sahinggo hampiang lupo babini. Kalau indak dijodohkan dek orangtuonyo jo Yanti, mungkin Satrio ko alun babini sampai kini. 

Yanti ko anak tungga. Inyo manarimo Satrio bukan dek agak  cinto, tapi dek agak-agak kanai paso dek papanyo. Tahu se lah awak tu, cinto tapandam Yanti hanyo pado Rundi. Samantaro, kaba dari Rundi tak pernah inyo dapek i. Nan adoh dapek dek nyo tentang Rundi ko hanyo “hati jo raso”. Raso-saro ka iyo.Raso-raso ka basuo. Hanyo itu sajo. Raso itu nan inyo paliharo sampai kini.Sampai inyo batamu babarapo hari nan lalu jo Rundi di Jam Gadang. 

Walau inyo tarimo pinangan Satrio jo aia mato manitiak nan jatuah ka hati, namun rindunyo ka rundi indak pernah hilang-hilang. 

Baitu sudah baralek, Satrio lansuang mamboyong Yanti ka Amerika. Beberapo tahun nan lalu, Pemerintah Indonesia pernah maajak Satrio untuak pulang ka tanah air untuak mengembangkan jo mambangun dunia  perminyakan di Indonesia. 

Yanti sangaik bahagia mandanga Pemerintah menawar Satrio untuak mengabdi di tanah air, walau kalau diukua-ukua jo gaji Satrio atau jo pendapatan Satrio di Amerika, tantu indak bara gaji nan kadidapek kalau bakarajo di Indonesia. 

Tapi, ukuran pengabdian ka negara, tak bisa diukua jo pitih. BJ Habibie urang hebat di Jerman. Gadang gaji e di nagara ko. Tapi baitu Pak harto mahimbau e pulang, inyo ndak manulak. Nyo panuhi demi pengabdian ke negara. 

Baitu pulo nan tasuo di hati Satrio. 

Sabananyo Satrio duo tahun nan lalu alah ka mamutuihan manarimo tawaran pemerintah. Tapi, apo dayo. Manusia hanyo berencana, keputusan tatap di tangan Nan Maha Kuaso. 

Baitu mandanga kaba buruak tentang lakinyo, Yanti maraso dunia ko baranti baputa. Nyo paluak anaknyo Didit. “ Didit, kasihan dirimu Nak, kecil-kecil kamu sudah jadi anak yatim!” badarai-darai aiamato Yanti mamaluak Didit sasudah mandanga talepon dari tampek karajo Satrio nan mandapek kecelakaan karajo dan maningga di rumah sakik. 

Sajak dua tahun nan lalu, Yanti pulang ka tanah air.Pulang ka Banduang. Tapi tanpa Satrio. Satrio pernah bapasan, kalau inyo mati nanti, kubuakan inyo di ma tampek matinyo. Baitu pasan Satrio, sahinggi jasad Satrio indak dibaok ka Indonesia doh. 

Kalau soal harato paninggaan laki, ijan disabuik.Iyo sabana bakambuik jatuah manjadi hak Yanti jo anaknyo Didit. Pitih Asuransi nan inyo tarimo dek tasabab kecelakaan karajo lakinyo ko, indak kahabih-habih tu doh. 

Alun lai tabungan Satrio salamo bujang sampai maningga, iyo sabana banyak. Iyo balindak-lindak. Hitungannyo indak puluhan Em lai….lah adoh mandakek ka bunyi tus…Ya Ratusan miliar rupiah kalau dalam bentuk rupiah. Apolagi, Satrio adoh pulo babisnis sampingan salamo di Amerika. 

Mama Yanti alah maningga satahun nan lalu. Sajak mamanya maningga, kesehatan papanyo lansuang drop. Acok tamanuang. Acok tahibo-hibo. Urang gaek ditingga-an bini, tantu tarumuak. Hubungan kemesraan papa dan mama Yanti ko mirip jo kemesraan antara Ainun dengan Habibi. 

Satahun Yanti di Banduang, banyak laki-laki nan tibo. Dari nan brondong hinggo nan duda kayo sampai ka urang nan alah babini bagai, banyak kanai hati ka Yanti. 

Papa Yanti kini lah pasrah.Inyo indak namuah lai  ikuik campua ka soal sia ka jadi jodoh anaknyo nan lah marando ko. 

“Semuanya terserah dirimu, Nak. Asal itu baik dan membuat kamu bahagia, ayah setuju saja!” baitu kecek papa Yanti. Tapi, sabanyak tu laki-laki nan tibo, indak ciek juo nan kanai di hati Yanti. Dalam pikiran dan hatinyo, nan tabayang dek inyo adolah Rundi. 

Yo, hanyo Rundi.Rundi.Rundi !

Inyo ka Padang dalam rangka maurus rumahnyo nan adoh di Ulakkarang. Rumah tu gadang jo rancak. Sajak papanyo pindah ka Banduang, rumah tu dikontrak an ka sebuah perusahaan. 

Kini kontrak rumah tu lah habis. Yanti ingin marehab rumah tu. Alah dua kali rumah ko direhab, partamo wakatu tajadi gampo. Nan kaduo, ko kini ko ha. 

Papa Yanti urang Padang nan pernah menjadi pejabat di Bukittinggi. Mamanya urang Banduang. 

Kini anak Yanti satu-satunyo si Didit, patang malam dijapuik dek bakonyo nan urang  Gunuang Pangilun. 

Kini Yanti lah siap-siap manunggu Rundi di rumahnyo. Inyo duduak manis mananti di berando rumah nan bapaga tinggi tu. 

Indak lamo sudah tu, Rundi tibo pakai oto pajero warna putiah. Sabadabok-dabok darah Yanti tantu labiah kareh dabok darah Rundi.

Baitu mancaliak, Rundi tibo, Yanti nan lansuang mambukak an paganyo. 

Senyum manisnya manyambuik Rundi sang pacar lamo !

“Masuaklah Da….!”

Yanti mampasilakan  Rundi masuak ka rumahnyo nan langang tu !

(Basambuang)  

Bukittinggi 210520/22;06

Photo Istimewa

MPA, PADANG - Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan Covid 19, telah menyatakan bahwa PSBB dilakukan salah satunya meliburkan tempat kerja. Namun, hal ini tidak mungkin selamanya dilakukan pembatasan, roda perekonomian harus tetap jalan.

Terkait hal tersebut, pemerintah pusat akan melaksanakan skenario New Normal yang akan diterapkan di 4 Provinsi, antaranya yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat dan Gorontalo.

Khusus untuk Sumatera Barat, Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Drs. Toni Harmanto, MH mengatakan Polda Sumbar dan jajaran siap mendukung skenario New Normal tersebut, dengan tujuan untuk memberi ruang supaya aktivitas perekonomian bisa bangkit kembali.

"Kami (Polda Sumbar) tentu sangat mendukung kegiatan (new normal) tersebut. Karena kegiatan ekonomi harus berjalan," ujar Kapolda Sumbar, Selasa (26/5).

Kapolda menyebut, bahwa Polda Sumbar siap mengerahkan 6.000 lebih personel kepolisian untuk mengawal skenario New Normal. Sebanyak 2/3 personel, memang sudah dikerahkan sejak operasi Ketupat dan Operasi Aman Nusa II.

"Operasi Ketupat untuk pengamanan Ramadhan dan Idul Fitri. Sementara Operasi Aman Nusa yang juga mengawal penanganan Covid-19," katanya.

Kapolda Sumbar menambahkan, pengawalan polisi saat penerapan skenario New Normal nantinya untuk menegaskan kepada masyarakat, agar kembali mematuhi aturan protokol kesehatan, termasuk mematuhi maklumat Kapolri untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

“Iya, nanti kami akan tegaskan kepada masyarakat agar kembali mematuhi protokol kesehatan dan juga maklumat Kapolri,” tambahnya.

Dalam penerapan new normal nantinya, para pelaku usaha akan diberi keleluasaan melakukan aktivitas, termasuk keluar masuk Sumbar dan bergerak antar Kota dan Kabupaten. Nantinya, kepolisian mendata para pelaku usaha di setiap posko.

"Jadi akan ada pengecualian kepada mereka keluar masuk karena ada aktivitas dan kegiatan perekonomian. Supaya ekonomi kita terus berjalan," pungkas Irjen Pol Toni.(*)

Sumber : Bidhumas Polda Sumbar


Sejak mewabahnya pandemi Covid19 dengan temuan kasus pertama pada awal Maret 2020, kemudian disusul dengan berbagai kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah, tak bisa dipungkiri bahwa pendataan atau data penduduk Indonesia merupakan masalah paling signifikan yang harus menjadi awal dari pengambilan keputusan kebijakan New Normal.

Carut marutnya data penduduk inilah yang menjadikan kebijakan-kebijakan pemerintah terkait kedaruratan kesehatan pandemi Covid19 kemudian berujung pada penerimaan Bansos dan BLT yang tidak tepat sasaran.

Tentunya selaku penyelenggara negara pemerintah pusat dapat mengedepankan semua kementrian pun badan-badan atau instansi terkait. Dan menjadikan struktur pemerintahan terbawah sebagai ujung tombak yaitu RT dan RW

Sensus Penduduk Nasional Berskala Besar, dengan pendataan yang lengkap, termasuk sekaligus melakukan uji Swab atau Rapid Test. Yang harus dilakukan dari tingkatan RT hal ini dapat dilakukan dengan didampingi oleh petugas dari Kelurahan dan Kecamatan serta melibatkan Dinas Kesehatan di setiap Kecamatan.

Mulai dari

1. Nama Kepala Keluarga
2. Umur Kepala Keluarga
3. Pekerjaan Kepala Keluarga
4. Status Tempat Tinggal (Rumah Pribadi Atau Kontrak) jika kontrak sampai kapan
5. Jumlah Anggota Keluarga
6. Pendapatan Kepala Keluarga
7. Siapa Saja Dari Bagian Anggota Keluarga Yang Tinggal Serumah Memiliki Pekerjaan dan Berapa Penghasilan/Bulan dan Apakah Ikut Menopang Kehidupan Keluarga.
8. Berapa Jumlah Anggota Keluarga Yang Berstatus Pelajar
9. Berapa Pengeluaran/Hari
10. Berapa Biaya Listrik
11. Apa Ada Bagian Dari Keluarga Yang Menderita Penyakit Bawaan.
12. Ikut Terdaftar Sebagai Peserta BPJS atau Terdaftar Sebagai Nasabah Asuransi Tertentu Atau Tidak

Intinya Sensus Penduduk Nasional Berskala Besar dan dimulai dari bawah dengan pendataan yang detail.

Dari pendataan ini kemudian pemerintah bisa menentukan berbagai bentuk penerapan kebijakan lanjutan terkait pandemi Covid19.

Penerapan New Normal mau tidak mau memang harus diambil, pelonggaran PSBB pun harus dilakukan meski sampai hari ini jumlah yang terinfeksi terus meningkat.

Konsep piramida terbalik dalam bentuk Sensus Penduduk Nasional Berskala Besar (SPNBB) harus dilakukan. Untuk menjadi landasan kebijakan pemerintah dalam mempolakan kehidupan dengan tatanan baru di tengah pandemi Covid19.

Terlalu naif jika penyelenggara negara tak mengetahui kemana dan bagaimana langkah-langkah selanjutnya yang harus dilakukan setelah adanya SPNBB dan rasanya kurang elok rasanya jika penulis harus menjelaskan bagaimana kemudian hasil SPNBB ini bisa menjadi landasan kebijakan New Normal.

Karena pada dasarnya pemerintah selaku penyelenggara negara memiliki begitu banyak kaum pandai yang mampu memberikan masukan.

Namun kurang tepat jika pemerintah mengenyampingkan Sensus Penduduk Nasional Berskala Besar. Lalu kemudian melakukan penerapan tatanan bersosialisasi, bermasyarakat, kembali bekerja, dan seterusnya, dan seterusnya serta memunculkan Konsep New Normal ditengah pandemi Covid19 yang masih mewabah dengan tingkatan korban terinfeksi yang terus meningkat.

Harus dan segera menjalankan New Normal itu benar, itu penting, namun juga harus dibarengi dengan SPNBB. Dengan adanya SPNBB pun akan sangat mendukung KMK No. HK.01.07-MENKES-328-2020 TENTANG PANDUAN PENCEGAHAN PENGENDALIAN COVID-19 DI PERKANTORAN DAN INDUSTRI.

Sensus Penduduk Nasional Berskala Besar akan mampu menjadi tolak ukur dalam pengambilan kebijakan berkelanjutan dikemudian hari dalam penerapan New Normal yang pada tujuan akhirnya adalah menciptakan kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang Sehat Sentosa Adil dan Makmur. Dengan tatanan hidup baru atau New Normal di tengah pandemi Covid19 yang bagai mata pisau ada dimana-mana dan siap menghujam siapa saja tanpa terkecuali. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Mohon Maaf Lahir dan Batin. (*)

Rival Achmad, Ketua Umum Aliansi Jurnalistik Online (AJO) Indonesia

Bendahara Umum PB Gerakan NU Peduli Covid 19, Alexander Pranoto saat menyerahkan bantuan sembako kepada pekerja harian lepas, Senin (25/5/2020), di Rumbai.

MPA, PEKANBARU - Sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap sesama, Pengurus Besar Gerakan Nahdlatul Ulama Peduli (PB GNP) Covid 19, kembali salurkan paket sembako.

Kegiatan berupa pemberian paket sembako dan masker itu, kembali dilaksanakan Sabtu (23/5/2020). Kegiatan yang berlangsung sejak Rabu (20/5/2020) masih terus dilakukan sampai saat ini.

Sampai dengan Selasa (26/5/2020) dinihari masih terus dilakukan ditengah masyarakat. Gerakan ini ditujukan kepada masyarakat yang terdampak covid-19, di Kota Pekanbaru.

"Ini merupakan bentuk kontribusi nyata untuk membantu penanganan COVID-19, terutama  pemenuhan pangan masyarakat yang membutuhkan," kata Ketua Umum PB Gerakan NU Peduli Covid 19, T Rusli Ahmad, disela-sela kegiatan.

Penyaluran bantuan ini diberikan langsung kepada tukang ojek, masyarakat langsung ke rumah, panti asuhan, dan masayarakat yang datang langsung ke kediamannya.

Untuk diketahui pembagian paket sembako selama beberapa hari ini langsung diberikan kepada kiyai NU, guru ngaji, pesantren, madrasah, imam masjid yang tidak tersentuh diipinggir kota.

Bahkan ada juga diberikan  kepada tenaga honorer TK, panti asuhan, kaum dhuafa. Kegiatan ini langsung dilakukan secara dor to dor.

T Rusli Ahmad mengatakan, saat ini banyak masyarakat yang membuka usaha yang tidak berjalan ,apalagi penghasilannya yang pas-pasan.

"Kita sudah salurkan bantuan paket sembako dari dermawan ini lebih kurang sekarang ini ada 2000 an paket, "ujarnya.

"Kami dari Gerakan NU Peduli Covid 19 mengajak masyarakat mengikuti himbauan pemerintah jangan keluar rumah jika tidak penting,jaga kebersihan dan tidak panik," ujarnya. *


Oleh : Pinto Janir 

Apo  nan tajadi sahari saudah partamuan tu? Nan jaleh, sajak partamuan tu, Rundi mulai indak pokus lai manggaleh. Inyo indak takah dirinyo nan sudah-sudah. Adoh nan barubah. 

Apo Rundi kanai guno-guno dek Yanti? Samantaro, Yanti model itu pulo. Apo Yanti kanai guno-guno dek Rundi? 

Tidak. Di antara mereka taka da yang saling mengguna-gunai. Nan adoh tu adolah “guno-guno” hati nan iduik baliak di ruang hati Rundi dan Yanti. Hiduiknyo bak miang dalam pangana. 

Gawat !
Hari hari mereka jadi laruik.Lembaran lamo tabukak bantuak tulisan baru di ateh buku letjes.

Mungkin adoh juo batuanyo pandapek seorang pujangga dalam puisinyo, bahaso cinto nan kekal tu adolah cinto nan alun salasai-salasai. Apo ko cinto ko harus disalasaikan? Ba-a manyalasaikannyo? Iko nan mambuek Rundi panik jo sakik kapalo.

Apo nan salah? Cinto tapandamkah? Indak. Manolah adoh cinto nan salah. Nan salah tu bukan soal cintonyo. Tapi adolah ruang jo wakatu nan indak tapek. Ruang kini bukan ruang wakatu maso SMP. Rundi sadar akan hal iko. Sadar….tapi inyo indak mampu maredakan gejolak hati dan rindunyo nan manggabubu.

Ruang jo wakatunyo tu bana nan salah. Di sampiang Rundi alah adoh Saijah nan setia mendampinginyo. Saijah terlalu manih untuak dikhianati. Taraso dek Rudi. Tapi sakali lai, Rudi tak mampu menahan gejolak sayang pada Yanti seorang. 

Iko nan mabuek Rundi maraso basalah dalam hati. Inyo manyasa. Manga inyo dipatamuan Tuhan jo Yanti di saat alah adoh urang lain di sisinyo. 

Bahkan kini, Rundi ingin mamuta wakatu baliak ka balakang, tapi bukan ka maso-maso SMP dulu, tapi ka maso-maso pertemuan di jam gadang tu. 

 Manga Rundi ka lua pulo dari toko dan lalu bajalan-jalan pulo ka Jam gadang, lalu batamu jo Yanti.  

Inyo ingin baliak ka suasana sabalun batamu Yanti di Jam Gadang tu. Tapi ba-alah. Sia pulo urang nan bisa mailak an sebuah pertemuan nan indak biaso. Apo iko nan dinamokan takdir? Antahlah.

Kini Rundi seakan barado di posisi nan paliang sampik jo sulik. Cintonyo ka Yanti adolah sebuah keniscayaan. Samantaro Saijah adolah sebuah fakta. Faktanyo, Saijah adolah bininyo.Keniscayaannyo, Yanti adolah sosok nan indak pernah lanyok di hatinyo. 

Gilo….. 

Cinto Rundi kapado Yanti adolah cinto nan alun salasai. Nan masiah tabangkalai. Iko nan mambuek Rundi maraso sangaik badoso jo basalah gadang ka Saijah bininyo surang. Raso basalah  ko sabananyo lah lamo tatanam di hatinyo. 

Nan Saijah, indak adoh salahnyo doh. Nan salah tu perasaan Rundi surang. Nan salah tu Rundi…

Sebagai bini, Ijah adolah pandampiang nan salalu mamparatian dan mamanuhi kabutuhan lahia jo bathin Rundi. 

Rundi manarimo dijodohkan dek ayahnyo jo Saijah tak labiah karano inyo maharagoi parmintaan ayahnyo. Sajak ketek hinggo kini, indak pernah sakali luruih pun Rundi mambantah apo kato ayah jo amaknyo. 

“ Saijah tu anak konco Ayah. Saijah elok lakunyo. Ayah baharok Rundi bajodoh jo Saijah. Ba-a kiro-kiro dek Rundi”, baitu dulu kato ayah sewaktu manjodohan Rundi jo Saijah. 

Memang ayah indak pernah mamaso Rundi doh. Ayah hanyo batanyo, ba-a kiro-kiro dek Rundi. Tapi Rundi tahu, walau ayah indak mamaso, kalau inyo tulak tantu luko hati ayahnyo.

Malukoi hati urang tuo samo jo mambari kabaji dalam hiduik. Dalam hiduik ko, Rundi bapantang malukoi hati urang tuo. Wakatu itu Rundi manjawek: “ Bari ambo waktu duo atau tigo hari ko yo Yah”. 

Dalam duo hari tu Rundi baparang jo perasaannyo surang. Inyo sangaik indak bisa mandutoi diri surang. Sajak SMP, cintonyo hanyo adoh untuk Yanti. Indak bisa inyo malupokan si Yanti saketek alah e juo. 

Sabaliknyo, di jarak nan jauh dari Rundi, dalam waktu ampiang basamoan, di Banduang papa Yanti juga sadang manjodohkan Yanti dengan anak kenalannya. Yanti juga tidak bisa menolak perjodohan dari sang ayah. Bagaimanapun juga, Rundi adolah lelaki nan abadi di hatinyo. Samo jo Rundi, Yanti indak bisa pulo manulak apo kato orangtuonyo. 

Rundi dan Yanti adolah duo insan nan terjebak dalam cinto nan antahlah…

Cinto mereka  indak bisa dimangarati jo kali-kali pangana, indak sampai kalau ukua jo tali-tali aka. 

Katikok ditanyo dek urang tuo masiang-masiang untuak dijodohkan jo urang “asiang” urang nan alun dikenal salamo ko, Rundi manjawek lambek tapi agak kurang pasti, “kalau itu permintaan ayah, indak ba-a doh.”

Samantaro Yanti manjawek jo maangguak dan manunduak. Tapi papa Yanti indak mancaliak bahaso waktu anaknyo manunduak jo mahangguak tu aia mato Yanti  jatuah manitiak. Hatinyo ngilu mambayangkan Rundi. Tabayang deknyo wajah Rundi dan sagalo kenangan nan pernah adoh di maso SMP. 

Tapi kaba-a juo lai. Baik Rundi atau Yanti, kalaupun urang ko batekad sakuek antah untuak saliang manunggu, nan kadi tunggu ko apo jo sampai bilo.

Urang nan kaditunggu iko pun antah dima lo nyo kini. Indak jaleh di ma rimbonyo doh.  Kaba tak adoh, barito apo lai. Duo duonyo samo indak tahu antah di mano gerangan barado. Nan inyo ketahui, baik Rundi maupun Yanti adolah cinto dan rindu. Hanyo itu bana se nyo. 

Apo ko iko nan dinamokan “rindu pado kekasih indak adoh salahnyo nan salah adohlah marindukan kekasih nan sabananyo indak pernah adoh”. 

Tapi , kalau dikecek an indak adoh, Rundi dan rindu, Yanti dan rindu, itu adolah nyato. Nyato sajaleh-jalehnyo, Rundi dan Yanti saling merindu. Itu indak bisa diingkari. Agak balipek gai molah langik jo bumi namun nan rindu takah indak ka cayia. Baitu karehnyo. Tapi, urang nan di rindu ko antah di manonyo kini. Di bathin baraso, di lahia indak  tasuo…takah itu bana agaknyo. 

Itulah salah satu alasan,  baik bagi Rundi maupun bagi Yanti untuk basadio manarimo perjodohan dari urang tuo mereka  masing-masing, walau mereka samo-samo tak bisa mandutoi diri surang-surang bahaso baik di ruang hati maupun  di bilik nan paliang tasuruak bagai, tanyato  cinto mereka tetap terawat dengan rapi  dan wangi. 

Saijah memang rancak. Hampiang indak adoh caceknyo. Kalau dicaliak-caliak dari bantuak jo rupo, Yanti jo Saijah itu sabaleh duo baleh kameknyo. Nan Saijah rancaknyo naturalis. Rambuik panjang babadak tipih. 

Yanti? Awak rancak, papa bapitih pulo. Tantu nan rancak tu tadi tambah tacilak juo jadinyo. Biaya perawatannyo tinggi. Pokoknyo, urang baduo ko basaing-saing rancaknyo. Bahkan, walau samo-samo lah punyo anak bagai, indak kalah gai rancaknyo jo anak-anak gadih maso kini ko. 

Biasonyo urang kalau alah baranak, kalau indak pandai marawat diri, habih rancaknyo . Kok dulu badan lansiang,  kinilah semok. Tiok suduik lah tumbuah lamak bantuak batalua-talua. Sagalo jatuah. 

Tapi urang nan baduo ko tampaknyo selain dianugerahi Tuhan jo badan nan stabil pandai pulo marawat diri. Wangi cantik dan rapi. 

Adoh lo urang,  baitu sasudah balaki, satahun luruih rancaknyo tingga lai. Tahun tahun salanjuiknyo mulai indak pandai lai basegeh. Apolagi kalau lah baranak pinak. Nan baun badan lah baun bawang. Nan rambuik lah apik. Antah ma nan minyak manih antah ma nan baun rambuik. Nan pakaian alah bagarebeh tebeh. Indak sarancak maso bapacar-pacar dulu lai. 

Itulah. Cubo caliak si Ijah jo Yanti. Tatap gaya.Tatap manarik.

Sahinggo…

Itulah nan tajadi. Nan Rundi indak bisa mandutoi perasaan hatinyo surang. 

Sakali lai, sebagai bini, Saijah indak adoh salahnyo doh. Nan salah tu Rundi nan alun samparono malupokan bayang-bayang cinto ka Yanti. Padohal cinto tu hanyo cinto monyetnyo.  Cinto nan acok disepelekan urang. Hanyo cinto maso ngenek-ngenek.Hanyo cinto sangenek. Tapi tanyato, nan sangenek tu bana ruponyo nan buruak lakek tangannyo. Kanai perasaan dibueknyo.

Perasaan model iko nan alah lamo manjadi duri dalam dagiang di badan Rundi sampai kini. 

Cintonyo untuak Yanti, sayangnyo untuak Saijah. Ba-a lo caritonyo ko ha? 

Rundi maraso, dalam hiduik, dosonyo nan  paliang gadang adolah katikok inyo indak bisa malupokan Yanti. Bahkan, maaf disabuik, kadang-kadang katikok Rundi sadang bacinto samesra-mesranyo jo Saijah, nan talinteh dalam pangananyo justru bayangan wajah Yanti. 

Atagfirullah ! Iko doso.Rundi tahu.Tapi, ba-a lah. 

Indak tahu awak doh, apo dek karano iko nan manyebabkan wajah anak padusi Rundi nan banamo Suci agak maireh-ireh saangin ka wajah Yanti.  Indak pulo wak tahu doh, sabananyo wakatu batamu jo Yanti di Jam Gadang anam bulan nan lalu tu, tasirok gadang darah Rundi mancaliak wajah Didit sewaktu anak tu  manyalimi tangan Rundi. Ba-a ka indak, wajah Didit hampiang mirip jo wajah anak laki-laki Rundi. Wajahnyo asli maireh-ireh ka muko Rundi. 

Teya !

Tapi apo nan tajadi sahari sasudah partamuan tu? 

Biasonyo, satiok pulang dari toko, Saijah manyambuik Rundi di muko pintu. Sudahtu inyo salimi lakinyo tu. Seperti biaso, Rundi akan masuak ka kamar agak sabanta. Ijah alah mangarati se tu nyo. Manga sudah tu lai.  Karano tradisinyo. Manyalimi di muko pintu. Di kamar Rundi mamaluak Ijah agak saangin . Sudah tu manyayang bibianyo salinteh sajo. Alah tu!

Tapi hari tu tradisi takah tu indak lai dilakukan Rundi. Bukannyo Rundi lupo mamaluak Ijah, tapi inyo takuik basalah ka bininyo tu. Inyo takuik, kalau katikok mamaluak bekoh nan tabayang justru wajah Yanti, ba-a?

“Uda…..!” Yanti mangambangkan tangannyo sarupo urang harok manunggu pelakukan terhangat dari suami tacinto. Rundi tapatuang patuang sajo. Inyo gugup…..

“Lupo Uda…..?” lembut suaro Yanti. 

“ Eh…eh…iyo…..” gak tapaso senyum Rundi. Tapi tatap juo inyo paluak urang nan alah mambarinyo duo anak tu. Kali ko, Rundi mamaluak agak kuat. Agak lain. Agak galetek.  Ijah memandang. Dek karano paluak nan nyo rasokan kini agak babeda jo paluak nan taralah. 

“Adoh apo uda?” 

Randi indak manjawek. Tangguang-tangguang basah maraso basalah, inyo perhangat sajo pelukannyo. Kini inyo ingin mambayangkan habih bahaso nan dipaluaknyo ko adolah Yanti, bukan bininyo. Maafkan, uda Ijah, bisiak hati Rundi. 

Biasonyo, tradisi percintaan suami istri ko adolah “tertib”. Rundi mandi dulu.  Mangopi ciek lu. Solat Magrib dulu. Sudah tu makan malam sameja basamo jo anak-anak. Manunggu Isya, inyo duduak-duduak lamak ditemani Ijah di taman bulakang rumah.Bacarito-carito soal ba-a keadaan atau suasana manggaleh sahari tadi.  

Baitu masuak wakatu Isya, urang ko solat bajamaah. Rundi imannyo. Makmumnyo Ijah dan duo anak-anak mereka. Sudah solat di ruang khusus tampek solat nan adoh di rumah ko , anak-anak masuak ka kamar masing-masing. Baitu pulo jo Rundi dan Saijah. 

Di kamar sepasang suami istri itu melakukan ritual suci nan halal. Penuh dengan kehangatan dan kemesraan serta kelembutan yang menggelorakan. Tapi hari itu, semua jadi kacau. Tak tertib lagi agaknya tuan. 

Tapi Ijah adolah bini nan indak banyak tanyo. Namun walau baitu, jo suaro lembut dan hangat Ijah iyo tapaso batanyo sakali ko: “ Ba-a kok tagageh-gageh bana uda kini ko”. Rundi indak manjawek.Inyo mambaleh pertanyaan tu dengan pelukan yang “beda”. Ijah merasakan, suasana ini hanya dirasakan Ijah katikok mereka menuntaskan malam pertama dulu. 

Entah mengapa. Ini aneh.

Seusai mereka laruik bacinto semesra-mesra antah,sehangat-hangat antah, saikua cacak tibo-tibo jatuah tapek di salimuik putiah nan manutuik badan Ijah. 

Ijah paliang takuik jo binatang-binatang ngenek. Takah kapuyuak, caciang, cacak…itu paliang phobi Ijah tu.

“Uda….!” Ijah tapakiak gali. Cacak tu nyo usia lakeh  jo tangan  dek Rundi. 

Ha jatuah cacak? 

Apokoh iko sabuah tando? Kalau kecek urang gaek-gaek dulu, kalau adoh cacak jatuah dari loteang, itu pertanda sebuah kehilangan dan kerugian nan gadang akan manimpo badan diri awak. Bisa pulo kahilangan pitih.Kahilangan harato nan sangaik baharago. Ijah pernah mandanga mitos satantang iko. 

“Apo tadi galeh uda rugi?” batanyo Ijah sambia tersenyum manih ka Rundi dan Rundi mambaleh jo pelukan hangat. Antah ba a ko lah, Rundi gilo mamaluak ka mamaluak hangat se. Apo iko caronyo malapehkan kasan rindu ka Yanti. 

Jaek bana Rundi kalau takah iko caronyo...

Tapi ba-a kok sampai hati bana Rundi malakukan hal iko. Bukankah iko samo jo penganiayaan bathin dalam rumah tanggo. 

Hati Ijah sabana badasia katikok takana dek nyo bahaso  adoh pulo urang nan mahubung-hubungi cacak nan jatuah tu tadi jo cinto nan ka hilang. 

Kecek urang pulo,  kalau adoh cacak jatuah di muko awak, itu tando urang nan dicinto sadang mengkhianati diri awak. Nan satantang iko, Ijah manggigik bibia dalam bathin. Getir. Tapi, Ijah indak barani bapikia macam-macam. Baginyo, tando cacak nan jatuh itu jauh labiah rancak batando karugian harato daripado patando kahilangan laki. 

Sabananyo Ijah bapantang picayo ka mitos. Picayo ka nan indak-indak tu, samo sajo jo sirik hukumnyo. Sirik tu , dosonyo gadang tu mah!

Tapi, memang sajak vas bungo kristal tajatuah pacah tasingguang dek  tangan Ijah sadang manyapu, perasaannyo memang agak kurang lamak. Tapi, tatap inyo indak ka picayo bagai jo pirasat-pirasat buruak  takah itu doh. Inyo yakin, Rundi adolah suami terbaik dan ayah terbaik bagi anak-anaknyo. 

Sambia mamacik-macik ujuang jari Ijah nan haluih tu, Rundi bakato jo mandata-datakan suaro. Sarupo suaro urang nan indak maraso basalah. 

“Ijah, bisuak pagi Uda ka Padang. Manamui mitra galeh uda. Kami handak ka barencana mambukak bisnis baru….”.

Handeh, sumpah.Rundi iyo sabana maraso badoso gadang alah mandutoi bininyo surang. Sajak manikahi Ijah, baru sakali luruih  ko inyo baduto. Tapi, ba-alah. 

“Jam bara uda ka Padang?”

“Agak-agak jam 9 lah.Uda siap-siapkan dulu toko. Kapado karyawan alah uda kabari”, kato Rundi . 

Sudah tu urang ko takalok baduo. Lagi-lagi, di atas kasur empuk itu terjadi kejadian nan indak biaso. Biasonyo gaya lalok mereka kalau tak berhadap-hadapan, yo saliang bapaluak-paluak an. Tapi, kini caro lalok Rundi pun lah babedo. Inyo lalok malam tu mamunggungi Ijah. Rundi baru sadar katikok tasintak parak siang buto. Lakeh-lakeh nyo paluak Ijah. Tapi, hatinyo taibo jo resah.Inyo ibo ka Ijah. 

Sakali lai, tapi ba-a lah….

Nan jaleh, siang bekoh inyo ka batamu jo Yanti. Sore sabalun manutuik toko, Rundi manelpon Ijah. Mereka berjanji ka batamu sambia makan siang di restoran Sederhana dakek banda bakali Padangbaru Padang…

Sudah solat Subuh. Rundi barangkek ka toko. Ijah manyalimi Rundi.Rundi mancium kaniang Ijah. 

“Hati-hati di jalan Da….” Mereka saliang malambai. Pajero rancak bawarna putiah tu kalua dari garasi rumah nan asri. 

Katiko jam manunjuk an hari hampiang pukua sambilan, Rundi batanyo ka si Nal, salah seorang pagawai tokonyo. 

“Nal, contoh barang kemeja jo sarawa jin nan brendid tu alah Inal kalua-an?”

“Alun lai , Bang….”,  jawek Inal. Karyawan Rundi mahimbau Rundi jo sabutan abang sadonyo. 

“Tolong ambiak an ciek, ka abang pakai untuak ka Padang kini ko!”

Inal heran. Biasonyo Rundi indak pernah batuka baju nan dipakai dari rumah. Sudah tu Inal heran pulo, biasonyo Rundi kalau ka mambaok barang galeh untuak dipakainyo, nan dicarinyo harago nan murah-murah. Nan indak brendit. Tapi, kali ko Bang Rundi mamintak baju jo sarawa nan paliang maha di toko nan elit ko. 

“Ah….!” 

Maleh lo Inal batanyo. Takuiknyo, dianggap kepo lo bekoh dek induak samangnyo nan gagah ko…

Indak lamo sudah tu, Rundi lah manuka baju nan dari rumah. Kini inyo mamakai kameja putiah babahan katun sarato sarawa jins 501 nan asli dan sapatu sport. Langkok jo reben itam nan jarangnyo pakai. 

Padahal, kalau Rundi ingin mengakhiri sagalonyo, cukuik partamuan nan di Jam Gadang tu sajo nan manjadi partamuan nan terakhir. 

Ba-a iko ndak dilakukan Rundi yo? 

Manga nyo turuik juo pacar lamo tu ka Padang? Indak ka mampadalam cabiaknyo luko ko?

(Bersambung )   Bukittinggi 210520/ 22.29

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
F