-->

Articles by "Religius"

Tampilkan postingan dengan label Religius. Tampilkan semua postingan

SUMBAR - MEDIAPORTALANDA - Tim gabungan Polsek IV Nagari Polres Sijunjung bersama Koramil 06 Palangki, tadi pagi melaksanakan Operasi Yustisi, Sabtu (20/2).

"Operasi ini untuk memantau kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan," kata Kapolres Sijunjung AKBP Andry Kurniawan, S.Ik. M.Hum melalui Kapolsek IV Nagari Iptu Dian Jumes dan Kasubbag Humas AKP Nasrul Nurdin. 


Operasi Yustisi ini digelar sejak pukul 09.30 WIB di Jalinsum Muaro Bodi, tepatnya di depan Mako Polsek IV Nagari Kec. IV Nagari, yang dipimpin oleh Kapolsek IV Nagari Iptu Dian Jumes Putra dan Danramil 06 Palangki Kapten Inf. Muhammad Ferizal.


Dalam Operasi tersebut, dilakukan sanksi sosial terhadap 13 orang yang tidak mematuhi Protokol Kesehatan (tidak memakai masker), yakni tindakan memberikan teguran tertulis dan menyapu serta membersihkan sampah.


"Setelah diberikan sanksi, masyarakat yang tidak menggunakan masker kemudian diberikan masker oleh petugas," ujarnya. 


Pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat, untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dengan selalu menggunakan masker dan menjaga jarak selama beraktivitas di luar rumah. 


"Jaga kesehatan, dan jaga diri kita dari virus corona dengan mematuhi protokol kesehatannya," imbaunya.(bhps)

Dalam mengarungi rumah tangga, terkadang kita mengalami ketidak puasan terhadap perilaku pasangan hingga menyebabkan hilangnya keharmonisan.

Pasangan suami istri, pasti mendambakan rumah tangga yang harmonis. Sakinah, mawadahdan dan warahmah. Namun dalam mengarunginya  terkadang banyak ujian dan cobaan. Apa yang kita harapkan terkadang tidak selamanya berjalan mulus, ini mesti dilalui. 

Ajaran Islam telah menetapkan syariat yang mengandung berbagai macam mutiara hikmah, pengarahan serta solusi bagi berbagai bentuk persoalan dalam pernikahan dan rumah tangga. Sehingga nantinya pasangan suami dan isteri bisa menjalani hidup bahagia bersama, tenang, tenteram dan damai dengan merealisasikan ajaran Islam.

Untuk hikmah hidup dalam berumah tangga, bisa diambil dari kisahnya shahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, yakni Umar bin Khattab. Umar merupakan sosok mukmin yang memiliki karakter tegas, pemberani dan keras dalam membela kebenaran. Meskipun begitu hatinya penuh kelembutan ketika bermuamalah dengan istrinya. Menonjol jiwa kepemimpinannya tetapi tetap tawadhu’ dan penuh sabar dalam berinteraksi dengan pasangan hidupnya.

Kehidupan rumah tangga sang 'Amirul Mukiminin" ini penuh pesona dan bisa dijadikan teladan ketika timbul bibit-bibit persoalan dalam rumah tangga. Sifatnya yang arif serta bijaksana, beliau sosok tipikal suami yang bertanggung jawab. Sungguh beruntung wanita yang memiliki suami ideal sebagaimana sosok menakjubkan seorang Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ini.

Diriwayatkan bahwa seorang pria datang ke rumah Umar bin Khattab hendak mengadukan keburukan akhlak istrinya. Maka ia berdiri di depan pintu menunggu Umar keluar. Lalu ia mendengar istri Umar bersuara keras pada suaminya dan membantahnya. Sedangkan Umar diam tidak membalas ucapan istrinya. Pria itu lalu berbalik hendak pergi sambil berkata, “Jika begini keadaan Umar dengan sikap keras dan tegasnya, dan ia seorang Amirul Mukminin, maka bagaimana keadaanku?”.

Umar keluar dan melihat orang itu berbalik (pergi) dari pintunya. Maka Umar memanggilnya dan berkata, ”Apa keperluanmu wahai pria?”. Ia menjawab “Wahai Amirul Mukminin semula aku datang hendak mengadukan kejelekan akhlak istriku dan sikapnya yang membantahku. Lalu aku mendengar istrimu berbuat demikian, maka akupun kembali sambil berkata, ”Jika demikian keadaan Amirul Mukminin bersama istrinya maka bagaimana dengan keadaanku?”.

Umar berkata, ”Wahai saudaraku, sesungguhnya aku bersabar atas sikapnya itu karena hak-haknya padaku. Dia yang memasakkan makananku, yang membuat rotiku, yang mencucikan pakaianku, yang menyusui anak-anakku dan hatiku tenang dengannya dari perkara yang haram karena itu aku bersabar atas sikapnya”.

Pria itu berkata, ”Wahai Amirul Mukminin demikian pula istriku”. Berkata Umar, ”Bersabarlah atas sikapnya wahai saudaraku...”

Kisah Umar ini dikutip dari kitab Al-Kabair oleh Adz-Dzahabi, cetakan Darun Nadwah Al Jadidah. Dari kisah shahabat Rasulullah ini, ada faedah penting yang bisa kita ambil pelajarannya dan bisa dijadikan acuan untuk keharmonisan rumah tangga. Seperti diungkapkan Syaikh Musthofa Al-‘Adawi, dalam kitab yang diterjemahkan 'Romantika Pergaulan Suami Istri", sebagai berikut. 

1. Suami hendaklah mampu menahan diri.

Sikap diamnya Umar bukan berarti ia tak membela diri, justru sebaliknya. Inilah sikap mulia seorang suami sekaligus sebagai pemimpin rumah tangga ia telah memberikan teladan dalam kebaikan akhlak. Bukan pula ia membiarkan kesalahan istri, tapi saat situasi memanas, sama sekali tak kondusif untuk menasehati istri.

Terlebih lagi ketika ia segera membalas kemarahan istri, maka yang terjadi adalah perang mulut dimana ledakan emosi-emosi negatif akan menjadikan keduanya terjebak dalam pertengkaran, masing-masing mengemukakan alasan. Sosok suami shalih harus mampu mengendalikan diri, menjaga keadaan agar tetap stabil sehingga tak membuka kesempatan sekecil apapun bagi setan untuk masuk dan mengacaukan suasana. Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,


أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian adalah yang paling baik pergaulannya terhadap istri” (HR. Imam Ahmad)

2. Senantiasa mengingat kebaikan pasangan 

Ketika suami melihat kekurangan atau keburukan istri, hendaklah ia segera mengingat-ingat kelebihan dan kebaikan istrinya. Ini kiat praktis agar suami tidak fokus pada kekurangan yang menyebabkan terjerumus pada penyesalan dan menumbuhkan kebencian. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Tidak sepantasnya seorang suami benci pada istrinya. Karena kalaupun ia membenci sebagian akhlak istrinya, di sisi lain ia akan menyukai akhlak-akhlaknya yang lain” (HR. Muslim).

3.Kesabaran akan berbuah manis

Salah satu kunci lestarinya pernikahan adalah sabar dalam berinteraksi dengan pasangan ketika ada perkara-perkara yang membuatnya kurang berkenan. Ketika sebuah sikap atau perbuatan masih bisa ditoleransi sebatas tidak bertentangan dengan syariat maka berlapang dadalah dan terimalah keadaan dengan berbaik sangka. Jadilah orang yang mudah beradaptasi dan lembut demi keharmonisan pernikahan.

Ingat pesan bijak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ

“Wanita itu seperti tulang rusuk yang bengkok. Bila engkau luruskan maka patah dan apabila engkau bernikmat-nikmat dengannyapun dapat engkau lakukan. Tetapi padanya terdapat kebengkokan” (HR. Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Meskipun demikian seorang suami harus terus menerus membina istri, bagaimana menjadi figur wanita shalihah dan seorang istri hendaknya berjuang agar mampu menunaikan hak-hak suami sebatas kemampuan yang dia miliki. Ketika keduanya mampu menjalani petunjuk-Nya insyaallah biduk rumah tangga akan bahagia. 

Wallahu A'lam

Sumber : sindonews.com

(Gusni) 

Orang yang bersedekah akan didoakan malaikat, sebaliknya orang yang pelit dan kikir juga mendapat doa dari malaikat. Foto ilustrasi

Kikir atau pelit, adalah sifat tercela nan paling dibenci Allah dan Rasul-Nya. Sifat ini cenderung mendorong pelakunya menumpuk harta tanpa berniat untuk berinfak dan bersedekah. Sementara, tidak satu pun riwayat mengatakan, jika bersedekah atau berinfak harta akan habis.

Sifat kikir ini diyakini bagai sebuah penyakit, yakni terlalu mencintai dunia. Orang yang terkena penyakit ini, tidak akan mengorbankan hartanya untuk membantu orang lain. Padahal setiap sedekah yang dilakukan seseorang, akan didoakan oleh para malaikat. Begitu juga sebaliknya, malaikat pun akan mendoakan mereka yang kikir atau pelit tersebut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,ia berkata, RasulullahShallallahu 'alaihi wa salambersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

"Tidak satu hari pun dimana seorang hamba berada padanya kecuali dua Malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.' Sedangkan yang lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir." (HR Bukhari dan Muslim)

Tafsir hadis di atas menurut Al-Malla 'Ali al-Qari adalah kikir dalam memberikan kebaikan atau harta bagi saudaranya yang muslim. Dalam tafsir yang lainnya, harta orang yang kikir atau pelit akan hancur dengan sendirinya. Atau bisa juga pemiliknya yang akan hancur dengan hartanya, atau kebaikannya akan hilang. Sunguh mengerikan sekali bukan!

Ada bahaya besar yang akan timbul bila sifat kikir, pelit sempat menguasai kehidupan seseorang atau masyarakat. Dari Abdullah bin Amrradhiyallahu'anhu, ia berkata :

Jauhkanlah diri kalian dari sifat kikir, karena sesungguhnya kikir itu telah menghancurkan umat-umat sebelum kalian. Kikir mendorong mereka berbuat zalim, lalu zalimlah mereka. Mendorong mereka memutuskan silaturrahim, lalu mereka pun memutuskannya. Mendorong mereka untuk berbuat jahat, lalu berbuat jahatlah mereka. Jauhkanlah diri kalian dari perbuatan zalim, karena sesungguhnya satu kezaliman membawa banyak kegelapan di hari kiamat. Jauhkanlah diri kalian dari perbuatan buruk, karena sesungguhnya Allah tidak mencintai perbuatan buruk dan tindakan yang buruk.” (HR Ahmad)

Dari sifat kikir akan timbul bahaya yakni :

1. Terjadinya kezaliman

Contoh dari hasil perbuatan kikir ini adalah seperti mencuri hak orang lain, korupsi bahkan sampai membunuh. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu saat Abu Hayyaj Al-Asadi thawaf di Baitullah. Kemudian dia melihat seseorang berdoa, ‘Allahumma qini syuhha nafsi (Ya Allah, jagalah diriku dari sifat kikir).’ Orang itu tidak menambah dari itu. Lantas Abu Hayyaj bertanya kenapa hanya berdoa demikian. Orang itu menjawab, ‘Sesungguhnya jika diriku terjaga dari kekikiran, maka aku tidak akan mencuri, berzina, dan perbuatan dosa lainnya.’”

2. Terputusnya tali silaturrahmi

Sifat kikir ini menyebabkan pelakunya tidak lagi peduli dengan orang lain, dia tidak peduli dengan saudaranya, kerabatnya bahkan tetangganya hal inilah yang menyebabkan timbulnya kebencian, iri hati dan dengki sehingga orang kikir ini banyak yang dibenci.

3. Melahirkan kejahatan

Salah satu pangkal kejahatan adalah sifat kikir. Seseorang yang dikuasai sifat kikir sudah tidak mau mengikuti perintah tentang anjuran untuk berbagi antar sesama. Ia juga tidak akan percaya jaminan Allah terkait rezeki. Ia hanya percaya pada harta benda yang dimilikinya. Jika harta yang dimiliki tidak dibagi dengan orang lain, maka ia yakin akan menjadi kaya. Karena itu, Nabi SAW bersabda;

“Sifat kikir dan iman tidak akan berkumpul dalam hati seseorang selama-lamanya.” (HR. Ahmad).

Berdasarkan hadis ini, sifat kikir dan iman kepada Allah tidak akan pernah menyatu dalam diri seseorang. Jika ia memiliki sifat kikir, maka ia tidak beriman. Sebaliknya, jika ia beriman, maka ia tidak memiliki sifat kikir.

Semoga, muslim dan muslimah dijauhkan dari sifat tercela ini, dan AllahTa'ala selalu melindungi hamba-Nya dari perbuatan buruk tersebut. Aamiin.

Wallahu A'lam. 


Sumber : sindonews.com


(Gusni)

Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil. Ilustrasi/SINDOnews

Al-Qur’an menjelaskan, sebagaimana yang dijelaskan oleh sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW), bahwa sesungguhnya perbuatan manusia di sisi Allah itu memiliki berbagai tingkatan. Ada perbuatan yang paling mulia dan paling dicintai oleh Allah SWT daripada perbuatan yang lainnya. Allah SWT berfirman:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ ٱلْحَآجِّ وَعِمَارَةَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ كَمَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَجَٰهَدَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

Artinya: “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajadnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS At-Taubah: 19-20)

Dalam sebuah hadis sahih disebutkan, “Sesungguhnya iman itu ada enam puluh lebih cabang –atau tujuh puluh lebih—yang paling tinggi di antaranya ialah la ilaha illa Allah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan penghalang yang ada di jalan.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Jama’ah dari Abu Hurairah; al-Bukhari meriwayatkannya dengan lafal “enam puluh macam lebih”; Muslim meriwayatkannya dengan lafal “tujuh puluh macam lebih” dan juga dengan lafal “enam puluh macam lebih”; Tirmidzi meriwayatkannya dengan “tujuh puluh macam lebih” dan begitu pula dengan an-Nasa’i. (Baca juga: 17 Amalan Ringan yang Memiliki Pahala Besar (1)

Hal ini menunjukkan bahwa jenjang iman itu bermacam-macam nilai dan tingkatannya. Penjenjangan ini didasarkan atas nilai-nilai dan dasar-dasar yang dipatuhi.

Di antara ukurannya ialah bahwa jenis pekerjaan ini harus pekerjaan yang paling langgeng (kontinyu). Pelakunya terus-menerus melakukannya dengan penuh disiplin. Sehingga perbuatan seperti ini sama sekali berbeda tingkat dengan perbuatan yang dilakukan sekali-sekali dalam suatu waktu tertentu.

Sehubungan dengan hal ini dikatakan dalam sebuah hadis sahih: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinyu walaupun sedikit.” (Muttafaq ‘Alaih, dari ‘Aisyah (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 163)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dan Masruq berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah r.a., Amalan apakah yang paling dicintai oleh Nabi saw?, Aisyah menjawab: “Amalan yang kontinyu.” (Muttafaq ‘Alaih, ibid., dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan (429)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. bahwa sesungguhnya Nabi saw masuk ke rumahnya, pada saat itu ‘Aisyah sedang bersama dengan seorang perempuan.

Nabi saw bertanya, “Siapakah wanita ini?”

Aisyah menjawab, “Fulanah yang sangat terkenal dengan salatnya (yakni sesungguhnya dia banyak sekali melakukan salat).”

Nabi saw bersabda, “Aduh, lakukanlah apa yang kamu mampu melakukannya. Demi Allah, Allah SWT tidak bosan sehingga kamu sendiri yang bosan.”

Aisyah berkata, “Amalan agama yang paling dicintai olehnya ialah yang senantiasa dilakukan oleh pelakunya.” (Muttafaq ‘Alaih, ibid., (449)

Syaikh Yusuf al-Qardhawi, cendekiawan muslim dari Mesir, menjelaskan perkataan “aduh” dalam hadis tersebut menunjukkan keberatan beliau SAW atas beban berat dalam beribadah, dan membebani diri di luar batas kemampuannya.

"Yang beliau inginkan ialah amalan yang sedikit tapi terus-menerus dilakukan. Melakukan ketaatan secara terus-menerus sehingga banyak berkah yang diperoleh akan berbeda dengan amalan yang banyak tetapi memberatkan. Dan boleh jadi, amalan yang sedikit tapi langgeng akan tumbuh sehingga mengalahkan amalan yang banyak yang dilakukan dalam satu waktu," tutur Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam "Fiqh Prioritas, Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah" (1996).

Terdapat satu peribahasa yang sangat terkenal di kalangan masyarakat, “Sesungguhnya sesuatu yang sedikit tapi terus berlangsung adalah lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi terputus.”

Itulah yang membuat Nabi SAW memperingatkan orang-orang yang terlalu berlebihan dalam menjalankan agamanya dan sangat kaku; karena sesungguhnya Nabi khawatir bahwa orang itu akan bosan dan kekuatannya menjadi lemah, sebab pada umumnya begitulah kelemahan yang terdapat pada diri manusia. Dia akan putus di tengah jalan. Ia menjadi orang yang tidak jalan dan juga tidak berhenti.

Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah kamu melakukan amalan yang mampu kamu lakukan, karena sesungguhnya Allah SWT tidak bosan sehingga kamu menjadi bosan sendiri.” (Muttafaq ‘Alaih, yang juga diriwayatkan dari ‘Aisyah: Sahih al-Jami’ as-Shaghir (4085).

Beliau SAW juga bersabda, “Ikutilah petunjuk yang sederhana (tengah-tengah) karena orang yang kaku dan keras menjalankan agama ini akan dikalahkan olehnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim, dan Baihaqi dari Buraidah, ibid., (4086).

Sebab wurud hadis ini adalah seperti apa yang diriwayatkan oleh Buraidah yang berkata, pada suatu hari aku keluar untuk suatu keperluan, dan kebetulan pada saat itu aku berjalan bersama-sama dengan Nabi saw . Dia menggandeng tangan saya, kemudian kami bersama-sama pergi. Kemudian di depan kami ada seorang lelaki yang memperpanjang ruku’ dan sujudnya.

Maka Nabi saw bersabda, "Apakah kamu melihat bahwa orang itu melakukan riya?"

Abu berkata, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu".

Kemudian beliau melepaskan tanganku, dan membetulkan kedua tangan orang itu dan mengangkatnya sambil bersabda, "Ikutilah petunjuk yang pertengahan…" (Disebutkan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’, 1: 62 kemudian dia berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan orang-orang yang tsiqah.”)

Diriwayatkan dari Sahl bin Hunaif bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu memperketat diri sendiri, karena orang-orang sebelum kamu binasa karena mereka memperketat dan memberatkan diri mereka sendiri. Dan kamu masih dapat menemukan sisa-sisa mereka dalam biara-biara mereka.” (8 al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Awsath dan al-Kabir, di dalamnya ada Abdullah bin Shalih, juru tulis al-Laits, yang dianggap tsiqat oleh Jama’ah dan dilemahkan oleh yang lainnya. (Al-Majma’, 1:62).

Amalan Yang Luas Manfaatnya
Kembali ke QS At-Taubah: 19-20. Syaikh Yusuf Qardhawi juga menjelaskan berjuang di jalan Allah yang manfaatnya lebih dirasakan oleh umat adalah lebih afdal di sisi Allah dan lebih besar pahalanya daripada ibadah yang kita lakukan berkali-kali, tetapi kemanfaatannya hanya untuk kita sendiri.

Abu Hurairah r.a. berkata, ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang berjalan di suatu tempat yang memilih sumber mata air kecil, yang airnya tawar, dan dia merasa kagum kepadanya kemudian berkata, "Amboi, seandainya aku dapat mengucilkan diri dari manusia kemudian tinggal di tempat ini! (untuk beribadah). Namun, aku tidak akan melakukannya sebelum aku meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah saw."

Maka Nabi saw bersabda, "Jangan lakukan, karena sesungguhnya keterlibatanmu dalam perjuangan di jalan Allah adalah lebih utama daripada salat selama tujuh puluh tahun. Tidakkah kamu senang apabila Allah SWT mengampuni dosamu, dan memasukkan kamu ke surga. Berjuanglah di jalan Allah. Barangsiapa yang menyingsingkan lengan baju untuk berjuang di jalan Allah, maka wajib baginya surga.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dianggap sebagai hadis hasan olehnya (1650), beserta Hakim yang menganggapnya sebagai hadits sahih berdasarkan syarat Muslim, dan juga disepakati oleh adz-Dzahabi, 2:68)

Atas dasar itulah, menurut Syaikh Qardhawi, dalam beberapa hadis, ilmu pengetahuan dianggap lebih utama daripada ibadah, karena manfaat ibadah hanya kembali kepada pelakunya sedangkan manfaat ilmu pengetahuan adalah untuk manusia yang lebih luas.

Di antara hadis itu adalah: “Keutamaan ilmu pengelahuan itu ialah lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah, dan agamamu yang paling baik adalah sifat wara’.“ (Diriwayatkan oleh al-Bazzar, Thabrani di dalam al-Awsath, dan al-Hakim dari Hudzaifah, dan dari Sa'ad, yang disahihkan olehnya dengan syarat yang ditetapkan oleh Bukhari dan Muslim; serta disepakati oleh adz-Dzahabi, 1:92. Serta disebutkan di dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (4214)).

Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang beribadah ialah bagaikan kelebihan bulan purnama atas seluruh bintang gemintang.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah dari Mu'adz (Shahih al-Jami' as-shaghir, (4212); yang juga merupakan sebagian dari hadis Abu Darda, mengenai keutamaan ilmu pengetahuan, yang diriwayatkan oleh Ahmad dan para penyusun kitab Sunan, serta Ibn Hibban dari sumber yang sama (6297).

Selanjutnya, “Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang beribadah ialah bagaikan kelebihan diriku atas orang yang paling rendah di antara kamu.”

Hadis tersebut merupakan bagian dari hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Umamah, Turmudzi berkata "Ini adalah hadis hasan sahih gharib" (2686) yang juga terdapat dalam Sahih al-Jami' as-shaghir (4213)

Kelebihan ilmu pengetahuan itu akan bertambah lagi apabila orang yang berilmu itu mau mengajarkannya kepada orang lain. Sebagai pelengkap hadis tersebut, Syaikh Qardawi juga menyebutkanhadis yang merupakan bagian dari hadis Abu Umamah.

Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, hingga semut yang ada pada lubangnya, dan ikan hiu yang ada di lautan akan membacakan salawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”

Dalam sahih disebutkan, “Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang belajar al-Qur’an dan mau mengajarkannya.” (HR Bukhari dari Usman)

Atas dasar itu, para fuqaha mengambil keputusan: “Sesungguhnya orang yang hanya menyibukkan diri untuk beribadah saja tidak dibenarkan mengambil zakat, berbeda dengan orang yang menyibukkan diri untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Karena sesungguhnya tidak ada konsep kerahiban di dalam Islam, dan orang yang menyibukkan dirinya dalam ibadah hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Sedangkan orang yang menyibukkan diri dalam mencari ilmu pengetahuan adalah untuk kemaslahatan umat.”

Sementara orang yang ilmu pengetahuan dan dakwahnya dimanfaatkan, ia akan mendapatkan pahala dan balasan di sisi Allah SWT atas kemanfaatan ilmunya tersebut.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengajar orang lain kepada suatu petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melaksanakan petunjuk itu, tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali.”

Begitu pula pekerjaan yang paling utama adalah pekerjaan yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang yang paling berguna di antara mereka. Dan perbuatan yang paling dicintai oleh Allah ialah kegembiraan yang dimasukkan ke dalam diri orang Muslim, atau menyingkirkan kegelisahan dari diri mereka, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan sungguh akuberjalan bersama saudaraku sesama muslim untuk suatu keperluan (da’wah), adalah lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid selama satu bulan.”

Hadis tesebut diriwayatkan oleh Ibn Abu al-Dunya dalam Qadha' al-Hawa'ij, dan juga diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibn Umar, dan dianggap sebagai hadits hasan olehnya. (Shahih al-Jami' as-Shagir, 176)

Begitulah pekerjaan yang berkaitan dengan perbaikan dan kepentingan masyarakat adalah lebih utama daripada pekerjaan yang dimanfaatkan oleh diri sendiri. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda,

Tidakkah pernah kuberitahukan kepada kamu sesuatu yang derajatnya lebih tinggi daripada salat, puasa dan sadakah? Yakni, memperbaiki silaturahmi dengan sanak kerabat kita. Karena rusaknya sanak kerabat kita adalah sama dengan pencukur.” (HR Ahmad Abu Dawud Tirmidzi, dan Ibn Hibban). Diriwayatkan, “Aku tidak mengatakan, mencukur rambut, tetapi mencukur agama.” (Baca Juga: 7 Golongan yang Dinaungi Allah pada Hari Kiamat)

Doa untuk Pemimpin
Menurut Syaikh Qardawi, atas dasar itulah, pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang adil lebih utama daripada ibadah orang lain selama sepuluh tahun; karena dalam satu hari kadangkala pemimpin itu mengeluarkan berbagai keputusan yang menyelamatkan beribu-ribu bahkan berjuta orang yang dizalimi, mengembalikan hak yang hilang kepada pemiliknya, mengembalikan senyuman ke bibir orang yang tidak mampu tersenyum.

Selain itu, dia juga mengeluarkan keputusan yang dapat memotong jalan orang-orang yang berbuat jahat, dan mengembalikan mereka kepada asalnya, atau membuka pintu petunjuk dan tobat.

Selain itu, pemimpin yang adil juga memberi kesempatan untuk membukakan berbagai pintu bagi orang-orang yang menjauhkan diri dari Allah, memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat dari jalannya, dan membantu orang yang menyimpang dari jalan yang benar. (Baca Juga: Inilah Orang-orang yang Bangkrut di Hari Kiamat)

Pemimpin yang adil juga kadang-kadang mendirikan proyek-proyek pembangunan dan berguna sehingga tindakan ini dapat menciptakan lapangan kerja bagi para penganggur, mendatangkan roti bagi orang yang lapar, obat bagi orang yang sakit, rumah bagi orang gelandangan, dan pertolongan bagi orang yang sangat memerlukannya.

Itulah antara lain yang membuat para ulama salaf mengatakan, “Kalau kami mempunyai do’a yang lekas dikabulkan maka kami akan mendo’akan penguasa. Karena sesungguhnya Allah dapat melakukan perbaikan terhadap banyak makhluknya dengan kebaikan penguasa tersebut.”

Thabrani meriwayatkan sebuah hadis dari Ibn ‘Abbas bahwasanya saw bersabda, “Satu hari dari imam yang adil adalah lebih afdal daripada ibadah enam puluh tahun.” (Al-Mundziri mengatakan dalam at-Targhib, diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir dan at-Awsath, dan isnad al-Kabir dianggap hasan).

Akan tetapi al-Haitsami menentangnya, walaupun hadits tersebut didukung oleh hadits Tirmidzi dari Abu Said,

Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil.” Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. (HR al-Ahkam (1329).

Hadis di atas juga dikuatkan oleh riwayat Abu Hurairah r.a. dari Ahmad dan Ibn Majah yang dianggap sebagai hadis hasan oleh Tirmidzi, dan dishahih-kan oleh Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban,

Juga kelompok yang do’a mereka tidak ditolak ialah: orang yang berpuasa sehingga dia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang teraniaya.” (Hadis ini dianggap sebagai hadits hasan oleh al-Hafizh Ibn Hajar, dihahihkan oleh Syaikh Syakir dalam Takhrij Sanad dengan no. 8030, yang diperkuat oleh tiga hadits lainnya, dengan ketiga sanad-nya yang berbeda). (Baca juga: 3 Kelompok Manusia Ini Tidak Merasakan Ketakutan di Hari Kiamat).(*)



Sumber : sindonews.com

Al-quran diletakkan di baitil izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Nabi Muhammad. Photo Ilustrasi

Al-quran diletakkan di baitil izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Nabi Muhammad. Ilustrasi/SINDOnews

BEBERAPA atau bahkan kebanyakan orang masih bertanya-tanya tentang waktu turunnya Al-Qur'an: Pada malam Lailatul Qodar apa tanggal 17 Ramadhan?

Pertanyaan ini muncul karena pada surat Al-Qadar disebutkan Al-Qur’an turun pada malam Lailatul Qodar. Selanjutnya, Rasulullah saw mengatakan bahwa Lailatul Qodar ada di sepuluh akhir bulan ramadhan. Di sisi lain, nuzulul Qur'an selalu diperingati pada tanggal 17 Ramadhan.

Ahmad Zarkasih, Lc, dalam buku Meraih Lailatul Qadar, Haruskah I’tikaf? menjelaskan tentang “Nuzulul Qur/an” yang diambil dari beberapa kitab yang menerangkan tentang masalah ini.

Sejumlah ulama menyebut metode turunnya Al-Qur’an dalam kitab-kitab mereka dengan istilah kaifiyah alTanzil. Dalam kitabnya al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, Imam Badruddin al-Zarkasyi menyebut setidaknya ada 3 pendapat soal kaifiya Tanzil ini. Dan ketiganya adalah pendapat yang terekam dalam banyak kitab-kitab ulama tentang ilmu Qur’an.

Pertama, Al-Qur’an turun dengan ayat yang lengkap semuanya ketika malam Lailatul-Qadr ke bait-al-Izzah atau langit dunia dari al-Lauh alMahfudz.

Kemudian turun secara berangsur-angsur melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. selama 20 atau 23 tahun kemudian dimulai dengan 5 ayat pertama al-‘Alaq.

Kedua, Al-Quran turun secara berangsur ke langit dunia (bait al-Izzah) di 20 atau 23 malam Lailatul Qadr selama 20 atau 23 tahun tersebut.

Barulah setelah semuanya lengkap di langit dunia, Jibril menurunkannya berangsuran kepada Nabi Muhammad saw, selama 20 atau 23 tahun.

Ketiga, Al-Qur’an turun langsung kepada Nabi Muhammad saw secara berangsuran selama lebih dari 20 tahun dan dimulai di malam Lailatul-Qadr.

Dan dari tiga pendapat tersebut, pendapat yang banyak dipegang oleh Jumhur Ulama, yaitu pendapat pertama, bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia (daarul Izzah) pada malam Lailatul Qadr kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Makkah dan Madinah sampai wafat beliau.

"Banyak para ulama yang mengatakan bahwa pendapat inilah yang setidaknya bisa diterima dengan bantahan yang minim," ujar Ahmad Zarkasih.

Pendapat ini karena berdasar kepada suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Hakim dalam mustadrok-nya dengan sanad yang sahih, dari Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhuma. Beliau mengatakan bahwasanya Al-Quran itu turun sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul qadr. Kemudian diturunkan berangsur-angsur selama 20 tahun, kemudian ia mambaca ayat.

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik .” (QS. Al Furqan : 33)

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al Isra : 106)

Imam An-Nasa’i juga meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “……dan Al-qur’an diletakkan di baitil izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad saw.”

Turun Sekaligus
Ada beberapa ayat yang dijadikan alasan dan argumen oleh ulama tentang pendapat ini; yakni bahwa al-Qur’an turun sekaligus lebih dahulu ke baiytul-‘izzah, sebelum akhirnya disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam.

Beberapa ayat tersebut adalah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ

bulan Ramandhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (Al-baqarah : 185)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (Al-Qodr : 1)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ

Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi.” (Ad-dukhon : 3)

Dalam 3 ayat tersebut, semua menjelaskan tentang turunnya Al-Quran pertama kali, yaitu pada bulan Ramadhan tepatnya malam Lailatul Qadr; malam kemuliaan.

Selanjutnya pada surat Ad-Dukhon, yang dimaksud malam mubarak alias malam yang diberkahi ialah malam Lailatul Qadr pada bulan ramadhan sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ulama tafsir, salah satunya adalah Imam al-Alusiy dalam kitab tafsirnya.

Nah, dalam ayat-ayat tersebut, Allah swt menggunakan kalimat anzala, yang secara bahasa artinya itu adalah menurunkan. Dan itu dimaksudkan menurunkan secara sekaligus.

Karena dalam ayat lain, Allah swt. menjelaskan proses turunnya ayat kepada Nabi Muhammad tidak menggunakan kalimat anzala, tapi menggunakan kalimat Nazzala; yang berarti adalah menurunkan secara berangsuran.

Tafsir Jalalayn juga menafsirkan Surat Ad-dukhon itu "pada suatu malam yang diberkati" yaitu Lailatul qadar. Hanya saja, Jalalayn menyebut lailatul qadar adalah malam pertengahan bulan Sya'ban. Pada malam tersebut diturunkanlah Alquran dari Umul Kitab atau Lohmahfuz yaitu dari langit yang ketujuh hingga ke langit dunia.

Diturunkan Secara Berangsur
Setelah diturunkan secara lengkap (keseluruhan) dari Lauh Mahfudz ke langit Dunia (Baitul-Izzah), Al-Qur’an turun secara berangsuran selama 23 tahun. Ini menurut salah satu pendapat yang banyak dipegang ulama; 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah.

Dan turunnya Al-Qur’an secara berangsuran telah dijelaskan dalam firman Allah SWT

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS Al Isra : 106)

Menurut Ahmad Zarkasih, penulisa buku "Meraih Lailatul Qadar, Haruskah I’tikaf?" inilah salah satu keistimewaan Al-Qur’an, bahwa kitab suci ummat Nabi Muhammad ini turun secara berangsuran setelah sebelumnya diturunkan secara lengkap/sekaligus. Ini berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya yang diturunkan secara sekaligus, yaitu Injil, Taurat dan Zabur, tanpa ada angsurannya.

Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS Al-Furqan : 32)

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (QS Al-Furqan : 33)(*)

Sumbaer : sindonews.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
F